Mengenai Saya

Foto saya
Easy Going,, Hardworker,, Loving Challenges,, Laughing everytime,,

Rabu, 18 November 2009

SKETSA PERASAAN

Sketsa Perasaan,,hahahahaha sesuatu yg mungkin baru terdengar,,tp paling tidak sperti itulah adax,,setiap org mgkin pernah brusaha untuk menterjemahkan apa yg dirasakan,,sampai mereka mcoba untuk men"sketsa"kan sendiri...entah dalam bentuk apa..

Sketsa Perasaan seolah berusaha untuk mengartikan secara lebih sederhana apa yg dirasakan yg mungkin makna dan isix jauh lebih luas..

Tiba2 se teringat malam 2 hari sebelum posting-an tulisan ini,,deehhh asli,,bingung s.. bgmn cara menterjemahkan ato bahkan mmbuat sketsa ttg apa yg se dirasakan,,maksudnya bukan krna sy nda merasakan apa2,,tp karna itu td terkadang isix jauh lebih luas daripada sebatas melihat sketsa perasaan itu..tiba2 terdengar suara musik dr tetangga,,ohhh nda sangka,,,terdengar potongan bait " nothing but love can last 4ever,,nothing but love will start " yg sy tahu persis musikx,,

"Tunggu..tunggu,,i got the point" bgitu pikirku,,
MR. BIG-Nothing But Love,,Lupa2 ingatka lirikx tp intix sy merasa itu adalah sketsa yg tergambar dengan sendirix dari apa yg sy rasakan,,mantaaaaabbbb ment0nk kablampeq,,
Lagu bisa menjadi sebuah sketsa yg sederhana tp dalam,,paling tidak bisa menggambarkan perspektif yg dirasakan..

Terlepas dari itu sketsa itu,,tp rasa2x mmg lagu ini menjadi jwbn dr apa yg terjadi mlm itu..

"Nothing But Love"

Guess what baby
The things we say
came true today
Coz we listened to our hearts
No one but you will ever do
Our search is through
But our journey's just beginning
Nothing but love can last forever
Nothing but love will start
To mend the place inside your heart
That needed healing
Nothing but love can last forever
Nothing but love will start
To make your head spin round and round
You know you're feeling love
Nothing but love
Nothing but love
Can't read your mind
Lord knows I'm tryin'
But in your eyes
I see everything you need to know
Nothing to do but follow you
My aim is true I could never ask for any more
And if you walk away
You know that I will follow
To steal back your broken heart
At least until tomorrow
Because whatever comes today
Beside you I can't hide you're the one
Nothing but love can last forever
Nothing but love will start
To mend the place inside your heart
That needed healing
Nothing but love can last forever
Nothing but love will start
To make your head spin round and round
You know you're feeling
Nothing but love could hold our world together
Nothing but love can start
To let us hear the sounds above
that have been screaming love
Nothing but love

(Dedicated to "Jappo'kuw"...)

Minggu, 15 November 2009

Majalah HAI dan 'Boyish Culture'

Berawal dari usaha untuk mengerti ttg dunia pergaulan anak muda,,maka sekitar 10tahun lalu sy begitu suka "mengkomsumsi" semua media informasi salah satux majalah,,yaahhh wajarlah karna tuntutan usia yg semakin tak terbendung

dan mucullah sepenggal cerita dari Nurani Juliastuti yg terposting d email sy yg secara langsung menyadarkan sy bahkan memperkihatkan secara gamblang ttg prespektif pergaulan anak muda khususx laki-laki yg ternyata memiliki ideologi yg mengkin tidak banyak org sadari..Gila,,bombastisssss,,Fantastissssss...baru sy sadar ternyataaaa......hahahahahaha,,,TIIIIDAAAAAKKKKKK,,,,,ampuni sy Tuhan !!! hahahaha

Kurang lebih seperti ini:

Tidak seperti lapangan penelitian tentang media yang lain, majalah remaja, khususnya majalah remaja laki-laki belum banyak menjadi subjek penelitian yang menerapkan analisa metodologis secara ketat. Padahal, sama halnya dengan bentuk-bentuk media massa yang lain—koran, TV, film, atau radio—majalah remaja juga menyimpan kekuatan ideologi yang besar.

Tulisan ini akan menyelidiki bagaimana dunia remaja laki-laki dan ideologi maskulinitas direpresentasikan dan dikonstruksikan oleh Majalah HAI, satu-satunya majalah remaja laki-laki di Indonesia yang eksis sejak tahun 1977.

Secara sederhana makna dari term maskulinitas dalam studi ini menunjuk kepada nilai-nilai maskulinitas atau sifat-sifat yang dianggap lazim dimiliki laki-laki. Pertanyaan penting yang ingin dijawab dalam studi ini adalah bagaimana sistem operasi dari konstruksi budaya dan konstruksi sosial itu bekerja membentuk dominasi ideologi maskulinitas lewat media massa.

Ideologi maskulinitas mewujud dalam banyak wacana. Karena obyek penelitian ini adalah media remaja yang pangsa pasarnya juga remaja, maka wacana-wacana ideologi maskulinitas yang akan diteliti otomatis juga harus menggambarkan wacana ideologi maskulinitas yang dekat dengan kehidupan remaja, yaitu wacana-wacana maskulinitas seputar dunia personal mereka, sebuah dunia yang juga menjadi materi berita HAI.

Studi kecil ini akan memfokuskan diri pada 2 wacana maskulinitas yaitu: wacana pemujaan tubuh dan wacana machoisme atau wacana kejantanan. Dua wacana inilah yang dianggap mewakili nilai-nilai maskulinitas atau ideologi dominan secara umum dalam sistem kebudayaan kita. Dapat juga dikatakan, 2 wacana ini adalah representasi dari social stock of knowledge masyarakat, pengetahuan bersama yang dimiliki bersama oleh masyarakat tentang dunia, termasuk tentang nilai-nilai maskulinitas.

Mengingat studi ini bukan studi kuantitatif, maka tidak semua edisi majalah HAI diteliti. Majalah HAI yang diteliti adalah yang didalamnya memuat artikel-artikel tentang empat wacana yang dijadikan acuan penelitian.

Wacana Pemujaan Tubuh

Jika pada diri perempuan terdapat stereotipe bahwa bentuk tubuh ideal yang harus dikejar adalah tubuh yang kurus, tinggi, langsing, lengkap dengan rambut lurus panjang, maka pada diri seorang laki-laki pun sebenarnya juga terdapat stereotipe bentuk tubuh tertentu yang berlaku. Bahwa seorang laki-laki sebaiknya harus mempunyai bentuk tubuh yang kuat, berotot, dan sehat. Ini sesuai dengan tuntutan bahwa setiap laki-laki harus mempunyai sikap mental yang jantan dan macho. Laki-laki yang bertubuh lemah gemulai, kurus, dan lembek dianggap tidak sepenuhnya laki-laki, karena diragukan kemampuannya bisa menjaga perempuan.

Pertama, saya akan menganalisa 3 artikel berjudul: “Agar Sekuat Stallone” (HAI, 21-27/03/1989), “Agar Perkasa Seperti Arnold” (HAI, 5-11/12/1989), dan “Cowok Paling Takut Dipanggil Si Mungil”. Dua artikel pertama berisi upaya-upaya yang harus dilakukan supaya kaum laki-laki bisa memperoleh bentuk tubuh yang kekar. Argumentasi yang dipakai adalah seperti yang tertulis dalam artikel “Agar Perkasa Seperti Arnold” yaitu,” Yang namanya tubuh indah, kini tak Cuma jadi milik cewek. Cowok pun wajib hukumnya. Meskipun tentu saja ada perbedaannya. Jika cewek membentuk tubuhnya agar nampak singset dan seksi, cowok justru harus kelihatan kekar dan atletis. Toh jika dicari benang merahnya, ada juga kesamaannya. Enak dilihat, tubuh pun jadi sehat”.

Usaha untuk membuat seseorang bertubuh kekar menurut artikel-artikel tersebut adalah dengan melakukan body building, angkat beban, melatih otot-otot di seputar kedua lengan tangan, dsb. Dengan melakukan kegiatan diatas secara rutin, bisa diperoleh bentuk bahu lebar, pinggang ramping, bahu tegap tidak bungkuk, dan betis yang bagus. Atribut maskulinitas tampak dalam simbol-simbol otot yang menonjol melekat di tubuh. Remaja laki-laki dipaksa untuk menunjukkan semuanya itu dalam tubuh laki-laki yang sedang berkembang, tidak untuk kesenangan, tapi terutama sebagai metode pembuktian bahwa mereka adalah substansi bibit maskulinitas yang sedang tumbuh.

Artikel ketiga berisi tanya jawab dengan 4 remaja perempuan siswa SMU dan mahasiswa tentang cowok yang bertubuh mungil. Ketika ditanya manakah yang lebih enak dilihat, cowok yang bertubuh tinggi besar atau cowok yang bertubuh mungil, semuanya berpendapat bahwa cowok yang bertubuh kecil lebih enak dilihat karena tampak lucu dan menggemaskan, tapi tidak untuk dijadikan pacar. Cowok mungil sering tampak kurang berwibawa, slengean, klemar-klemer, anak mami, dan diragukan untuk bisa menjaga dan melindungi pasangan perempuannya. Kita simak ucapan Sisca, mahasiswa Unika Atmajaya yang ikut diwawancarai,” Gue sih ngeraguin juga kalo punya cowok mungil. Gimana nih kalo ada yang jailin di jalan, soalnya preman kan gede-gede. Kalo berantem, gue ragu pokoknya”. Disini, nilai-nilai yang dijadukan pegangan untuk menjaga dan melindungi seseorang diandalkan pada kebesaran dan kegagahan tubuh seseorang.

Selama ini jenis kelamin yang dianggap wajar melakukan segala aktivitas perawatan tubuh adalah perempuan. Laki-laki yang rajin membersihkan mukanya setiap hari akan dianggap seperti anak perempuan. Contoh artikel-artikel dibawah ini: “Sehat tanpa Jerawat”, “Biang Kerok rambut Rontok”, “Membuat Wajah Tetap Cerah” (HAI,17/09/1991) menunjukkan bahwa segala urusan perawatan tubuh tidak selamanya menjadi milik perempuan. Laki-laki pun berhak membersihkan mukanya setiap hari, supaya tetap tampak segar dan terhindar dari jerawat. Berhak untuk merawat rambut supaya tidak ketombean dan tidak mudah rontok, juga berhak untuk memakai minyak wangi untuk menyegarkan aroma tubuh. Terdapat negosiasi nilai-nilai disini. Anggapan umum bahwa perawatan tubuh adalah milik perempuan bukan harga mati yang tidak bisa ditawar. Kita juga bisa melihat bahwa tubuh yang besar dan gagah tidak selamanya menjadi patokan tubuh ideal bagi laki-laki. Pada suatu masa mungkin yang menjadi mode adalah tubuh yang besar, gagah, dan berotot, tapi sekarang mungkin titik fokus perhatian lebih tertuju pada bentuk tubuh laki-laki yang kurus, ceking, dengan model dan warna pakaian yang dulu kerap identik dengan perempuan. Untuk urusan pakaian, laki-laki tidak harus hanya memakai kemeja motif kotak-kotak atau garis-garis, kaos berkerah, atau kaos berleher bundar seperti biasanya. Ia juga bisa memakai rompi, warna-warna cerah, motif bunga-bunga atau polkadot, bentuk-bentuk baju yang menonjolkan lekuk tubuh, kemeja dan celana transparan, atau bahkan boleh memakai baju semacam rok. Intinya, remaja laki-laki pun berhak untuk tampil seksi dan mencari perhatian lewat tubuhnya.

Wacana Machoisme

Pemberani, tidak boleh cengeng, tidak boleh menangis, tidak boleh bersifat pengecut, adalah nilai-nilai dan kode-kode sifat kejantanan yang identik dengan laki-laki. Remaja laki-laki yang berniat merayakan Valentine, menciptakan puisi atau memberi setangkai bunga kepada seorang perempuan, harus berhati-hati. Jika tidak, ia akan dianggap terlalu melankolik dan sentimentil. Dua sifat yang jelas bukan gaya cowok yang macho dan jantan. Laki-laki juga tidak boleh suka bergunjing atau bergosip, apalagi latah, karena ia bisa dianggap kecewek-cewekan. Satu artikel yang bisa dijadikan contoh adalah artikel berjudul “Cowok Pun Bisa Cengeng ” (HAI edisi 18 Oktober 1984). Leadnya berbunyi seperti ini: Meski tergolong langka, sebenarnya ada juga cowok yang gampang nangis. Ada yang karena gampang terharu, ada juga yang terlalu mikirin diri sendiri. Hah? How Come! Selanjutnya kita simak kalimat-kalimat ini: Kamu pernah menangis? Barangkali kamu langsung ketawa denger pertanyaan konyol itu. Ngapain pakai nangis-nangis segala. Buat cowok, nangis itu seolah “haram” hukumnya. Memalukan banget. Masak cowok nangis? Yang bener aja. Mungkin kalo ada teman sesama cowok yang ketauan nangis, nggak bakal kamu akuin teman lagi. Artikel ini menjelaskan bahwa banyak faktor yang bisa menyebabkan seorang cowok sampai mengucurkan air mata. Mungkin karena ia adalah seorang yang sangat peka dan perasa, atau bisa jadi saat itu ia tidak kuat menanggungkan perasaannya. Tetapi akhirnya sama, cowok yang menangis adalah cowok yang cengeng, dan ini adalah kenyataan yang memalukan. Bahkan kalau ternyata sudah terlanjur terjadi, harus disembunyikan supaya tetap tidak ada orang yang tahu. Menangis, suatu reaksi natural atas perasaan yang berkecamuk dalam diri seseorang, masih dianggap sebagai hak monopoli perempuan. Laki-laki boleh saja menangis, asal jangan terlampau sering dan jangan sampai ketahuan banyak orang karena bisa dicap cowok cengeng.

Artikel berjudul “Cowok Paling Takut Dibilang Pengecut” (HAI, 2/6/1998) juga bisa dipakai sebagai contoh bagus untuk melihat bagaimana nilai-nilai kepengecutan ditanamkan sebagai sesuatu yang seharusnya tidak terdapat pada diri seorang laki-laki. Artikel ini juga berisi tanya jawab seputar topik diatas bersama 5 orang remaja perempuan. Kenapa yang diwawancarai perempuan? Kenapa bukan remaja laki-laki yang langsung dimintai pendapat? Jawabnya tentu saja karena perempuan dianggap sebagai pasangan ideal laki-laki, dan laki-laki harus menyimak baik-baik pendapat perempuan jika ingin mendapatkan hati mereka. Pertanyaan kenapa cowok paling takut dibilang penakut dijawab oleh Nina, salah seorang perempuan yang diwawancarai seperti ini: Kali karena cowok seharusnya serba lebih dari cewek. Maksudnya lebih pinter, lebih tinggi, lebih apa-apa. Jadi otomatis begitu dia dibilang pengecut dia merasa, wah masa gue diginiin. Pendeknya, cowok harus kelihatan berani. Dan konsep berani disini berarti siap membela dan menjaga pasangan perempuannya, berani menjadi diri sendiri, dan berani bertanggungjawab atas apa yang sudah diperbuatnya. Semuanya adalah sikap yang seharusnya dimiliki oleh semua orang, baik laki-laki maupun perempuan.

Remaja laki-laki juga dianggap lebih berani dari perempuan. Kegiatan-kegiatan keras dan cenderung menyerempet bahaya seperti panjat tebing, tinju, arung jeram, tampak lebih lazim jika dilakukan laki-laki. Perempuan yang kegiatan olahraganya tinju dan sepak bola misalnya, akan dianggap seperti anak laki-laki dan berbeda dari perempuan lain. Kode-kode kejantanan tidak berhenti pada sifat intrinsik yang melekat pada diri manusia, ia juga ikut dilekatkan pada asesoris kulit, metal, motor besar harley davidson, dan pilihan musik tertentu. Musik rock sempat menjadi jenis musik yang identik dengan laki-laki, meskipun kemudian banyak juga perempuan yang menggemari jenis musik ini.

Selasa, 30 Desember 2008

MANAJEMEN PROYEK

Ruang Lingkup Manajemen

Ruang lingkup manajemen adalah salah satu factor penting yang membuat proyek berjalan sukses. Kesalahan dalam menafsirkan kebutuha dan permasalahan klien akan menghasilkan sebuah definisi yang kabur. Jika hal tersebut menyebabkan pekerjaan ulang dan usaha tambahan, maka akan memakan waktu dan biaya proyek. Oleh sebab itu, proyek akan tetap tidak berkembang jika tidak memiliki ruang lingkup yang layak dan jelas.

Ruang lingkup manajemen ditetapkan pada tahun 1996 pada pertemuan PMBOK (Lembaga Pengetahuan Manajemen Proyek) sebagai proses untuk meyakinkan bahwa proyek terdiri dari segala kebutuhan pekerjaan dan hanya kebutuhan itu saja serta untuk membuat proyek berjalan sukses. Hal tersebut berkaitan dengan pembahasan batsan dan kontrol terhadap hal yang masuk ataupun tidak dalam suatu proyek.

1. Inisiasi Proyek

PMBOK mendefinisikan Inisiasi Proyek adalah Proses pengembangan terhadap proyek baru yang berjalan, atau proyek berjalan yang berlanjut pada fase berikutnya.

Proyek pada dasarnya memiliki “Start” dan “Finish” untuk suatu perusahaan kontraktor. Waktu Start (memulai) dapat dengan mudah menentukan pembahsan tender, ataupun keputusan kontrak (hasil-hasilnya)

2. Ruang Lingkup Perencanaan

PMBOK (1996,P.51) mendefinisikan ruang lingkup perencanan sebagai proses pengembangan dari kebijakan tertulis sebagai dasar keputusan proyek ke depan yang terdiri kriteria yang digunakan untuk memutuskan / menetapkan jika proyek telah selesai dilaksanakan.

Ruang lingkup perencanaan yang merupakan bagian dari filosofi proyek yaitu :

- Mendefinisikan batasan proyek dan memberikan pengertian secara umum mengenai proyek dan ruang lingkupnya kepada stake holder

- Membentuk dasar persetujuan antara klien dan kontraktor dengan melihat kedua pihak secara objektif

- Sebagai pengarah dan bersifat mendesak proses manajemen secara keseluruhan dalam proyek sehingga berpengaruh sebagai control perubahan.

3. Ruang Lingkup Definisi

PMBOK (1996,P.52) mendefinisikan sebagai salah satu bagian kecil dari proyek utama dan dengan komponen yang memiliki kemampuan mengatur. Ruang lingkup definisi adalah bagian dari proyek, yaitu bagaimana suatu proyek berusaha menjelaskan bagaimana menyelesaikan kebutuhan dan masalah klien. Metode pengembangan adalah bagaimana produk dapat dikembangkan atau diimplementasikan dan bagaimana WBS dapat digunakan untuk membekali sub devisi pekerjaan sehingga memiliki kemampuan mengatur dan mengerjakan sehingga semua dapat dipertanggungjawabkan.

4. Ruang Lingkup Penelitian

PMBOK (1996,P.56) mendefinisikan ruang lingkup penelitian sebagai proses penerimaan proyek oleh para stake holder. Ruang lingkup penelitian dapat dihubungkan dengan fase “life-cycle”, setiap item pekerjaan seharusnya dibuktikan secara formal pada akhir setiap fase. Segala perubahan selama pelaksanaan berjalan harus jelas dan diperlihatkan, begitupun saat pelaksanaannya telah selesai.

5. RuangLingkup Kontrol Perubahan

POMBK (1996,p.57) mendefinisikan ruang lingkup kontrol perubahan sebagai :

  1. Menentukan faktor-faktor yang menentukan apakah perubahan tersebut bermanfaat untuk proyek ke depannya.
  2. Menjelaskan bahwa perubahan telah disepakati
  3. Mengatur jadwal perubahan yang telah disepakati sebelumnya.

Seluruh rangkaian proyek dibuat untuk ruang lingkup perubahan setiap waktu selama proses pelaksanaan/ life cyrcle berjalan. Sistem ruang lingkup perubahan ini dibuat seefektif mungkin untuk mengatur perubahan selama proses pelaksanaan berlangsung. Pola manajemen adalah proses untuk mengidentifikasi dan mengatur perubahan pada setiap elemen ataupun produk yang dihasilkan selama proses life-cyrcle berlangsung.

Pola manajemen ini menawarkan :

1. Sebuah sistem kontrol perubahan berupa dokumen resmi yang menjelaskan secara bertahap

2. Daftar orang-orang yang memiliki otoritas untuk melakukan perubahan, ini termasuk klien maupun kelompok kontraktor.

3. Penjelasan yang lebih terperinci dari produk yang dihasilkan

4. Penggambaran mengenai pola dasar awal.

5. Rekaman dan sistem audit untuk membuktikan perubahan.

6. Frame kerja untuk monitoring, evaluasi, dan menjelaskan konsep dasar untuk melakukan perubahan.

7. Pembuktian/Pertanggungjawaban untuk keadaan mendesak.

Life Cyrcle proyek secara umum terdiri dari 2 aspek yang memiliki persamaan pada sistem pembuktian terhadap perubahan, tetapi berbeda dalam struktunya, yaitu :

  1. Ruang Lingkup Perancangan dan Pengembangan
  2. Ruang Lingkup Perubahan.

6. Project Closeout

Sangat penting untuk tidak hanya belajar dari kesalahan ataupun keberhasilan proyek sebelumnya tetapi juga mempelajari progresivitas selama proyek berlangsung. Project Closeout dibagi dalam 3 sesi, yaitu :

  1. Mengumpulkan data dari proyek sebelumnya untuk membantu dalam proses pengembangan yang terkonsep
  2. Mengumpulkan data dari proyek sebelumnya maupun proyek lain untuk memprediksi situasi terkini maupun masalah dalm pelaksanaan proyek sekarang ini.
  3. Memberikan laporan terkini yang menjelaskan pelaksanaan proyek saat ini dan membandingkannya dengan kondisi ideal proyek, serta membuat rekomendasi untuk proyek ke depannya.

Dari data-data yang diperoleh maka akan didapatkan penjelasan mengenai :

  1. Ruang Lingkup pekerjaansetiap proyek tidak akan pernah sama
  2. Data mengenai biaya dipengaruhi oleh inflasi
  3. Waktu kerja dipengaruhi situasi terkini
  4. Metode pembangunan mungkin saja berbeda
  5. Sistem manajemen yang digunakan mungkin juga berbeda.

Point Penting :

  1. Sangat penting dan esensial untuk mejelaskan lebih terperinci ruang lingkup pelaksanaan kerja untuk membatasi perubahan yang beresiko dan membutuhkan biaya besar.
  2. Proyek membutuhkan sistem kontrol perubahan yang efektif apabila terjadi perubahan yang sewaktu-waktu bisa terjadi.
  3. Mempersiapkan laporan umum proyek agar dapat dijadikan pelajaran dari pengalaman proyek tersebut.

Rabu, 24 Desember 2008

MERINTIS JALAN PERUBAHAN

Seolah menjadi hal yang tidak akan pernah luput dari lembaga kemahasiswaan adalah jalur hubungan birokrasi yang diharapkan selalu berjalan dengan sinergis. Walaupun demikian lembaga intra kampus harus tetap berada pada posisi yang independen dan non struktural dalam kampus.Intervensi birokrasi harus jauh dari lembaga kemahasiswaan, dan yang seharusnya terjadi adalah adanya hubungan sinergitas dimana birokrasi sebagai fasilitator dan pendidik sedangkan lembaga kemahasiswaan sebagai fungsi kontrol terhadap kebijakan- kebijakan yang selalu berpihak pada kepentingan masyarakat.

Apa kemudian yang terjadi ketika birokrasi seolah tidak mengerti independensi lembaga kemahasiswaan. Lembaga kemahasiswaan sebagai pembentuk kader- kader ke depan ditekan untuk tidak melakukan kegiatan pengkaderan dengan alasa dan argument yang tidak masuk akal. Yah dalm ekonomi mungkin inilah yang disebut monopoli pasar. Padahal bangsa ini harus terus mencetak kader yang mampu diandalkan akan tetapi lembaga kemahasiswaan sebagai tempat menuangkan pikiran kritis seolah telah disumbat oleh pihak lain yang menginginkan arah yang lain. Itulah yang terjadi, lembaga kemahasiswaa gagal dalam meraih pangsa pasar dari pihak birokrasi.

Mungkin itulah OKFT-UH saat ini, OKFT-UH harus mempunyai perencanaan mengenai manajemen strategi untuk menentukan arah pengkaderan ke depan. Tidak ada sebenarnya yang harus diubah dari tujuan lembaga OKFT-UH, akan tetapi yang harus dipikirkan adalah strategi pengkaderan agar tidak ada nilai-nilai yang bias walaupun dengan metode yang berbeda. Jika ini tidak dipikirkan maka tidak mengherankan jika nanti lembaga ini tidak mampu lagi mencetak kader-kader yang kritis, kreatif, dan inovatif.

Kebutuhan bangsa akan kader- kader tersebut tidak akan pernah habis, maka inilah yang harus disadari karena lembaga seharusnya melihat jika hal tersebut menjadi tanggung jawab lembaga kemahasiswaan dan menjadi wilayah pasar dan menjadi tempat lembaga kemahasiswaan memasarkan strategi dan arah pengkaderan guna mencetak kader yang diharapkan.

Maka lembaga ini harus berubah berdasarkan kebutuhan dari lembaga itu sendiri, bukan karena hasil dari intervensi birokrasi. Berjuanglah untuk arah yang ingin kita tentukan sendiri…

KEEP ON FIGHTING TILL THE END.

NEVER REGRET THE TIME